31.6 C
Tangerang
Saturday, August 20, 2022
Home Trending Begini Nasib Masa Depan Komputer Dunia Ada Di Tangan ARM

Begini Nasib Masa Depan Komputer Dunia Ada Di Tangan ARM

Keith Kressin, yang menjabat sebagai Senior Vice President Qualcomm, takjub bukan main saat dirinya telah melihat perkembangan prosesor berbasis ARM sekarang ini. Usai Apple telah memperkenalkan prosesor ARM ciptaannya, M1, yang sebelumnya telah dibenamkan pada Macbook Air dan Macbook Pro “Late 2020,” Amazon pun nantinya akan menyusul. Pada Kamis (3/12) pekan lalu, lini usaha cloud computing Amazon, Amazon Web Service, menawarkan superkomputer yang mana nantinya masa depan komputer dunia sudah tidak ditenagai oleh chip Intel melainkan prosesor berbasis ARM rancangannya, Graviton2.

“Setiap orang yang melihatnya tentu akan merasa sangat takjub melihat Apple akhirnya merilis (prosesor ARM buatan sendiri) dan untuk saat ini pun Amazon dan perusahaan-perusahaan besar yang lain pun juga akan mengikutinya,” menurut Kressin sebagaimana yang sebelumnya telah dilaporkan Don Clark untuk The New York Times. Perlu untuk diketahui, bahwasanya rilis layanan berbasis ARM bukan pertama kali dilakukan oleh Amazon.

Pada pertengahan tahun 2020 ini, Amazon pun telah berhasil merilis layanan serupa hingga membuat Snapchat salah satu klien terbesar AWS tertarik untuk pindah menggunakan ARM untuk masa depan komputer dunia. Pada saat Amazon memperkenalkan layanan terbaru yang dimiliki olehnya pada bulan Desember ini, giliran Twitter yang bersemangat pun nantinya akan ikut menjauhi Intel. Graviton sendiri sebelumnya sudah diperkenalkan oleh Amazon pada publik dari bulan November 2018 yang lalu.

Menurut Peter DeSantis, Vice President of Global Infrastructure Amazon, “para pelanggan kegirangan” pada saat AWS merilis cloud computing versi ARM. Dari segi perbandingan pada bentuk harga dan performa, klaim DeSantis, ongkos yang nantinya akan digunakan untuk melakukan langganan ARM versi AWS jauh lebih murah 40 persen dibandingkan dengan Intel. AWS merupakan salah satu bentuk penguasa dunia cloud computing yang nantinya akan digunakan oleh Adobe, Slack, Netflix, Twitter, Spotify, BBC, AirBnB, dan jutaan aplikasi/website untuk hidup. Klaim DeSantis kesannya tidak akan terlalu berlebihan.

Dalam studi yang berjudul “Towards Green Data Centers: A Comparison of x86 and ARM Architectures Power Efficiency” (2012) Rafael Vidal Aroca menjelaskan bahwa chip ARM lebih hemat daya dibandingkan chip berbasis x86 ala Intel atau AMD. Atom salah satu chip dengan arsitektur ARM (berbeda dengan chip dengan nama yang sama buatan Intel) yang hanya menggunakan 1,5 sampai 4,5 W (watt) dalam sebuah pengujian, sementara chip x86 (sayangnya tidak disebutkan apa saja nama chipnya) menggunakan listrik sebanyak 20 sampai 30 W.

Masa Depan Komputer

Dalam melakukan sebuah uji coba lain, mesin pencari milik Microsoft, Bing, sukses untuk membantu dalam melakukan penekanan kepada para penggunaan listrik hingga 1/3 tatkala menggunakan chip ARM pada server yang nantinya akan digunakan, jika dibandingkan dengan saat menggunakan chip x86 bernama Xeon buatan Intel. Untuk para pelanggan AWS seperti Netflix yang saat ini telah menggunakan layanan cloud computing dalam melakukan sebuah kuantitas yang cukup besar, chip yang hemat daya juga dapat membantu untuk menekan pengeluaran.

Sayangnya, Intel kemudian akan bertindak seperti apa yang sebelumnya telah dilakukan Kodak pada saat dirinya akan menghadapi fotografi digital. Sebagaimana yang telah dilaporkan Stephen Nellis untuk Reuters, Intel sesumbar tidak akan ikut-ikutan untuk menciptakan chip berbasis ARM dan memilih untuk tetap setia dengan arsitektur x86. Menurut Intel, tatkala bermigrasi dari chip x86 menuju ARM, pengembang aplikasi pun juga perlu untuk menulis ulang kode pada pemrograman sebab terdapat adanya suatu perbedaan pondasi antara ARM dan x86.

Lisa Spelman, Vice President Intel, menyebut bahwasanya hingga saat ini banyak pengembang aplikasi yang tidak ingin repot menulis ulang kode. “Intel sebelumnya sudah ikut serta dalam membangun ekosistem kerja x86 selama lebih dari 20 tahun, karenanya banyak sekali pengembang yang sudah merasa nyaman dengan x86,” pungkasnya. Dengan mengambil langkah yang sudah ditentukan seperti yang akan dilakukan oleh Kodak, Intel sangat mungkin bernasib yang sama dengan mantan penguasa dunia fotografi tersebut.

Alasannya adalah, tatkala Apple merilis M1, performa chip begitu sangat memukau dan sukses untuk menghapus keraguan atas kebijakan Apple bermigrasi dari Intel ke ARM. Tidak ketinggalan, raksasa-raksasa teknologi lain pun sudah bisa mengambil langkah yang cukup pesat terkait dengan ARM. Microsoft, Samsung, Xiaomi sebelumnya sudah berhasil untuk merilis chip ARM masing-masing, yaitu Exynos, SQ, dan Surge S1. Google mulai ikut serta dalam mengembangkan chip ARM bernama sandi Whitechapel.

Nama-nama lawas pengembang ARM misalnya adalah Broadcom, Qualcomm, dan Texas Instrument pun berpacu dalam menciptakan chip ARM yang hingga saat ini jauh lebih unggul. Yang perlu untuk diingat pula, usai kegagalan dengan Windows RT dan kekecewaan pada Surface Pro X, Microsoft tengah melakukan berbagai macam hal yang maksimal untuk ikut serta dalam mewujudkan Windows agar dapat benar-benar bekerja sempurna untuk komputer berbasis ARM.

Most Popular