31.6 C
Tangerang
Wednesday, December 7, 2022
Home Entertainment Review Film Terbaru The Next 365 Days, Dapat Kritik Buruk!

Review Film Terbaru The Next 365 Days, Dapat Kritik Buruk!

Inajournal.com – Film The Next 365 Days merupakan sekuel ketiga dari film erotis Polandia 365 Dni atau 365 Days yang rilis untuk melanjutkan akhir dari sekuel kedua yang gak jauh beda dari sekuel pertamanya. Namun sayangnya, film ini mendapatkan banyak kritikan, setelah dua kali disajikan film erotis yang ‘Kopong’, para kritikus film sepertinya sudah malas untuk menelanjangi film ini. Setelah mengakhiri film pertama dengan akhir yang menyedihkan, sekuel kedua memberikan jawaban bahwa nasib Laura tidak seburuk itu. Film ini berlanjut masih dengan ramuan panas yang klise, seperti apa filmnya? Berikut ini review filmnya.

Review Film The Next 365 Days, Ada yang Sudah Nonton?

 

     1. Bukan Satu, Tapi Dua

Dalam semesta 365 Days, penonton akan dikenalkan pada satu karakter yang penting bagi hidup Laura: Nacho. Nacho merupakan tukang kebun di rumah Massimo yang lebih gagah dan tampan dari tukang kebun pada umumnya, tapi ada plot twist, beberapa saat setelah kamu berpikir kalau “tidak mungkin ada tukang kebun seperti ini”.

Kamu akan dihadapkan pada fakta bahwa Nacho memang bukan tukang kebun, tapi anak dari bos mafia saingan Massimo. Laura yang sebelumnya mengira bahwa Massimo berselingkuh, kemudian jatuh hati dengan Nacho, Laura bahkan sering membayangkan mereka berdua melakukan adegan seks panas.

Fantasi Laura kemudian ditampilkan ke layar seolah menjadi variasi jika penonton sudah mulai bosan dengan hubungan seks antara Laura dan Massimo yang gitu-gitu aja. Dengan adanya cinta segitiga ini tentunya film jadi lebih panas.

     2. Masih Kosong Dan Membosankan

Kalau film ini diberi rating hanya berdasarkan adegan panasnya, maka akan mendapatkan banyak bintang. Tapi film merupakan kombinasi dari premis yang konsisten, penokohan, plot, akting, sinematografi, dialog dan masih banyak lagi, dilihat dari dialog, film ini memang bikin kuping agak panas. Massimo masih saja setia dengan dialog kosongnya, kekosongan ini juga ditampilkan ketika ia mengancam mafia lain. Di dunia nyata, jika pemain keluarga mafia bertingka seperti Massimo, ia hanya akan ditertawai atau mungkin diberi death kiss seperti yang dilakukan oleh Micael Corleone pada Fredo Corlone.

Bayangkan Massimo mengancam keluarga mafia saingan hanya dengan mengatakan bahwa jika keluarga itu menginjakkan kaki ditempatnya, ia akan menjadi tempat itu sebagai makam. Sama seperti sebelumnya, dalam sekual ini obrolan Laura dan temannya sangat membosankan, entah mengapa pertemanan seperti ini dapat dimiliki oleh perempuan yang dulunya adalah eksekutif muda. Gak ada resolusi, gak ada inspirasi, hanya ada pujian dangkal dan kata-kata yang kosong beserta dengan makanan -makanan mewah dan anggur mahal.

Perkembangan karakter pada film ini juga tidak ada, Laura masih tetap menjadi cewek labil, Massimo juga masih menjadi mafia yang sok galak, tidak memiliki prinsip yang jelas. Alih-alih menyelesaikan kesalahpahaman, keduanya menyelesaikan masalah lagi-lagi dengan itercourse, foreplay atau tentunya seks.

     3. Menghadirkan Lebih Banyak Ketelanjangan, Tapi Buruk

Jika kamu mencari sebuah film 18+, film ini sangat memenuhi ekspektasimu, bukan hanya Laura-Massimo, ketelanjangan juga dihadirkan dari tempat lain. Seperti rumah bordil tempat dimana Massimo diajak temannya untuk bersenang-senang, di tempat ini para perempuan menggunakan kostum dominatriks dengan memperlihatkan bagian dadanya.

Selain itu ada banyak adegan panas antara Laura dan Nacho yang ditampilkan secara gamblang, walaupun hanya berupa imajinasi Laura saja dan meskipun adegan 18+ nya lebih banyak, semuanya terbilang buruk, tidak bermakna dan bahkan membosankan karena dari film pertama dan kedua penonton sudah tahu apa yang ditawarkan dari film ini.

     4. Kurang Eksplorasi Atau Hanya Fokus Dengan Sensualitas?

Setelah tragedi yang membuat Laura keguguran, hubungan mereka menjadi tidak jelas. Sebenarnya masalah ini seharusnya dapat dieksplorasi lebih dalam karena kehilangan anak memang bisa merenggangkan hubungan antar pasangan. Terlebih lagi dengan adanya trauma dan bekas luka dari percobaan pembunuhan.

Namun sangat disayangkan, The Next 365 Days ini selalu kehilangan fokus dan lebih ingin mengeksplorasi adegan steamy nanggung dibandingkan aspek psikologis para tokohnya. Pemilihan akhir yang menggantung di pantai membuat sebagian penonton berasumsi mungkin akan ada sekuel dari film yang diangkat dari novel ini. Kalau ide tersebut diselesaikan, bukan hal baik bagi para kritikus film, karena tiga film ini saja sudah memporak-porandakan logika penonton. Itulah beberapa review film The Next 365 Days.

Most Popular