31.6 C
Tangerang
Sunday, January 29, 2023
Home Entertainment Review Turning Red (2022), Film Animasi yang Menggemaskan!

Review Turning Red (2022), Film Animasi yang Menggemaskan!

Inajournal.com – Masa pubertas adalah masa-masa yang paling menyenangkan di hidup setiap orang, dimana masa remaja ini hanya memikirkan kesenangan dan hanya ingin tahu akan hal-hal terfavorit saja seperti menggilai band musik. Review Turning Red rasanya perlu kamu simak baik-baik, karena film animasi besutan Pixar terbaru kaya akan budaya dan maknanya tersendiri.

Masa pubertas di film Turning Red dirasakan oleh Mei Lee, masa pubertas kutukan yang berbedq dengan masa pubertas orang pada umumnya. Sudah pasti masa itu bagi Mei Lee menjadi masa yang sangat tidak akan dilupakan, karena mengontrol emosi di masa itu betul-betul masih kurang mampu dan kalau berlebihan emosi bahagia, marah atau sedih dirinya akan berubah menjadi sosok panda merah yang menyeramkan.

Mei Lee mempunyai banyak teman dan itu adalah hal yang menyenangkan baginya, hari-hari pun terasa penuh semangat karena ada banyak hal baru yang ingin dilakukan olehnya. Mei, adalah anak remaja yang harus bisa mengendalikan emosi, karena dirinya tidak boleh bersikap berlebihan seperti semangat menggebu-gebu dalam menjalani masa pubertas. Fase yang sebetulnya bisa merasa bebas dalam memiliki emosi, Mei malah memiliki fase yang harus dirusak dengan sebuah kutukan turun-temurun tiap saat dirinya merasakan emosi yang berlebihan.

Mei akan berubah menjadi panda merah besar, saat emosinya tidak terkendalikan. Memiliki kisah perjalanan anak remaja yang harus berdampingan hidup dengan kutukan dan tayangan ini penuh budaya juga hingga cocok dinikmati anak-anak secara eksklusif di Disney+ Hotstar. Kamu yang penasaran, langsung saja ketahui reviewnya seperti berikut.

Review Turning Red yang Kaya Akan Budaya dengan Makna Paling Bagus

Review-Turning-Red

     1. Sinopsis

Review Turning Red yang kaya akan budaya ini, rupanya memiliki makna bagus dan memiliki sinopsis yang berbeda dari film animasi lainnya. Mengisahkan anak gadis berusia 13 tahun dengan tipikal perempuan penuh percaya diri, naksir anak laki-laki dan memiliki kelompok sahabat yang setia.

Tetapi di tengah masa pubertasnya itu, semua hal kesukaan Mei ditentang oleh sang ibu lantaran ketakutan anaknya memiliki pergaulan bebas dan ibunya sangat protektif hingga nyentrik sekali membuat anaknya merasa risih. Mei adalah anak gadis yang ingin menunjukkan, kemandiriannya dan mengeksplor masa remajanya itu.

Selain terpecah dengan tugasnya sebagai seorang anak dan fasenya di masa pubertas, Mei menghadapi tantangan lain yang aneh dan setiap kali dia bersemangat dia akan berubah menjadi panda merah raksasa menakutkan.

     2. Masa Pubertas yang Digambarkan Sebagai Panda Merah

Masa pubertas yang digambarkan sebagai panda merah bukanlah masa pubertas normal, bahkan tidak dimiliki anak lainnya. Rupanya, film ditetapkan di awal tahun 2000-an dan film Turning Red ini menangkap kegugupan dan kecanggungan gadis remaja yang mengalami pubertas.

Cerita yang menawan dan menyenangkan karena mengambil kisah persahabatan, hingga kekeluargaan dengan perkenalan karakter utama yang nyentrik dan percaya diri tinggi. Dimana anak gadis itu merasakan dirinya terbangun di pagi hari sebagai panda merah raksasa , dan saat itu memang sebagai hal yang tidak pernah terlupakan dan itu adalah metafora untuk menggambarkan pubertasnya.

     3. Stereotip Budaya Asia yang Kental

Kemudian reviewnya juga ada stereotip budaya Asia yang sangat kental dan terinspirasi dari pengalaman kehidupan pribadi Domee shi, sang sutradara Solo pertama dari Pixar. Domee Shi ini merupakan seseorang dengan keturunan Tionghoa-kanada dan ia sangat detail sekali dalam memasukkan aksen budayanya ke dalam film Turning Red ini.

Filmnya memiliki penggambaran autentik Tionghoa-Kanada dengan beberapa pengamatan menarik, tentang asimilasi budaya dan berakar pada tradisi budaya karakter yaitu dari keluarga Mei untuk menghormati leluhurnya. Memang keturunannya mempunyai kekuatan Panda Merah dan bisa Menjadi kutukan juga ketika keturunannya sedang di masa pubertas, seperti Mei Lee.

Ada juga sedikit nuansa keluarga Tionghoa di filmnya seperti praktik bai san atau menyalakan dupa untuk menghormati leluhur, irisan jeruk setelah makan malam bahkan pengumuman bahasa Kanton. Itu semua merupakan tambahan Brilian yang memperkuat spek kehidupan sebagai remaja Tionghoa di Kanada.

     4. Visual dan Animasi yang Memanjakan Mata

Terakhir review film animasi Turning Red mengenai visual dan animasi, yang bisa memanjakan mata penonton. Perpaduan gaya animasi yang indah termasuk visual yang rumit, animasinya memiliki detail dengan sentuhan budaya Chinese untuk memperkuat akar filum Asia. Kalau sekilas gaya animasinya, mirip sekali dengan animasi Stand by Me Doraemon, karena memiliki warna-warna cerah dan animasi yang memanjakan mata.

Panda merah atau si Turning Red ini juga digambarkan sangat menggemaskan, detail bulu yang tebal dan sangat menakjubkan. Tetapi bisa terlihat menyeramkan seperti saat sang ibu tidak bisa lagi kendalikan emosi di puncak film. Kelompok remaja sebagai teman Mei lee juga beragam dan tidak hanya secara etnis saja, tapi juga di dalam hal desain atau kepribadian mereka masing-masing.

Itulah review Turning Red yang sangat ramah anak. Bagaimana kalau kamu sudah nonton filmnya belum? Film yang dirilis bulan Maret 2022 kemarin ini sangat recommended untuk kamu tonton!

Most Popular